BURUNG AQUATIK di RAGUNAN

BURUNG AQUATIK

Ini adalah hasil pengamatan burung aquatik di ragunan. Untuk keterangan burung, ditambahkan sebagian besar didapatkan dari buku MacKinnon dengan judul Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan.

1.    Itik benjut

Pose terbang – Sayung, Demak – © Baskoro

Sepasang itik benjut bertengger

 

Klasifikasi

Kerajaan   : Animalia

Filum         : Chordata

Kelas        : Aves

Ordo         : Anserivormes

Famili        : Anatidae

Genus        :Anas

Spesies      :A. gibberifrons

Deskripsi/ karakter morfologi:

Tipe paruh dan ukuran:

Paruh lebar, berwarna abu-abu kebiruan dengan bercak kuning dekat ujungya, dan memiliki ujung yang membulat. Tipe paruh ini digunakan untuk menyaring tanaman, biji dan hewan-hewan kecil dari lumpur dan air.

Bentuk kaki dan susunan jari:

Bentuk kaki berselaput. Kaki dan tungkai abu-abu.

Bentuk ekor:

Bentuk ekor pointed.

Ukuran tubuh:

Berukuran agak kecil + (42 cm)

Topografi dan tanda-tanda pada tubuh:

Tubuh berwarna cokelat abu-abu. Mahkota cokelat gelap kemerahan. Muka dan leher kekuningan, kadang-kadang hampir putih. Iris cokelat-merah. Bagian sisi dan punggung cokelat kemerahan, sayap berspekulum kehitaman berbaur hijau-biru mengkilap. Sewaktu terbang, bulu ketiak putih dan terlihat bercak putih didepan speculum. Jantan: sedikit lebih besar daripada betina, ada tonjolan lubang pada dahi.

Perlaku reproduksi dan bersarang:

Sarang berupa tumpukan bulu halus, pada permukaan tanah atau lubang pohon.
Telur berwarna krem, jumlah 8-10 butir. Berbiak bulan April-Agustus, November.

Habitat:

Rawa, payau, mangrove, tambak, kolam, sungai. Dapat sampai jauh ke pedalaman.

Suara:

Jantan “pip” jelas; betina seperti tawa terkekeh (sering pada waktu malam).

Pakan

Tumbuhan dan invertebrata.

Kebiasaan:

Ditemukan berpasangan atau dalam kelompok kecil di daerah rawa mangrove, rawa payau, kolam dan sungai. Sering sampai jauh ke pedalaman.

Penyebaran global:

Andaman, Sulawesi, Sunda besar dan Nusa Tenggara.

Penyebaran lokal dan status:

Biasa terdapat di Sumatera selatan, tetapi tidak ada catatan perkembangbiakan. Baru-baru ini tercatat di Kalimantan selatan dan Kalimantan timur. Tampaknya, merupakan itik yang paling umum terdapat di Jawa dan Bali.

Catatan:

A. gracilis dari Australia dulu dimasukkan kedalam jenis ini. Pernah tercatat di Maluku bahkan dapat mencapai Sunda Besar (tetapi tidak mempunyai tonjolan pada dahi).

  1. 2.    Flamingo Eropa

Flamingo sedang tidur                                              Flamingo sedang minum

Flamingo sedang menelisik bulu

Klasifikasi

Kerajaan   : Animalia

Filum         : Chordata

Kelas        : Aves

Infrakelas  : Neognathae

Ordo         : Phoenicopteriformes

Famili        : Phoenicopteridae

Genus        : Phoenicopterus

Spesies      : Phoenicopterus ruberroseus

Deskripsi/ Karakter Morfologi:

Tipe Paruh dan ukurannya:

Paruh berbentuk membelok,  berwarna merah muda dan ujungnya hitam.

Bentuk kaki dan susunan jarinya:

Kaki jenjang, berbentuk selaput dan berwarna merah muda.

Bentuk ekor:

Bulu ekor berwarna merah muda dengan bentuk pointed.

Ukuran tubuh:

Ukuran tubuh  + (100cm )

Topografi dan tanda-tanda pada tubuh:

Bulu sayap, bulu dada dan kepala berwarna putih-merah muda. Burung ini memiliki leher seperti angsa. Flamingo muda keluar dari telur dengan warna abu-abu, namun flamingo dewasa memiliki warna bervariasi dari merah muda hingga merah cerah karena bakteri akuatik dan beta karoten yang terkandung dalam makanan mereka. Flamingo yang makan cukup memiliki warna yang lebih cerah dan menarik sehingga mudah dalam menarik pasangannya.Sedangkan flamingo pucat atau putih umumnya tidak sehat dan malnutrisi. Flamingo yang ditangkarkan umumnya memiliki warna merah muda pucat karena asupan beta karoten yang didapatkan tidak sebanyak yang didapatkan kerabat mereka di alam liar. Hal inilah yang mengubah perilaku pengurus kebun binatang untuk memberi makan udang kepada flamingo seperti di alam liar.

Perilaku reproduksi dan bersarang:

Habitat:

Hidup di daerah yang beriklim panas.

Pakan:

Sari buah, wortel, tomat, dedak dan ikan-ikan kecil.

Kebiasaan:

Flamingo seringkali berdiri dengan satu kaki. Alasan mengenai hal ini tidaklah banyak diketahui. Ada yang mengatakan bahwa flamingo memiliki kemampuan untuk membuat setengah bagian tubuhnya berada dalam keadaan tidur dengan posisi sedemikian rupa, namun hal ini belum cukup terbukti. Ada yang mengatakan bahwa posisi berdiri dengan satu kaki untuk menjaga agar kaki tidak basah, dengan maksud mengkonservasi energi. Karena berdiri di atas perairan, flamingo menggunakan kaki berjaring mereka yang juga digunakan untuk mengaduk lumpur demi mencari makanan.

Penyebaran global:

Eropa

Penyebaran lokal dan status:

3. Bangau tongtong

Klasifikasi

Kerajaan : Animalia

Filum         : Chordata

Kelas        : Aves

Ordo         : Ciconiiformes

Famili        : Ciconiidae

Genus        :Leptoptilos

Spesies      :L. javanicus

Deskripsi/Karakter morfologi :

Tipe paruh dan ukuran:

Paruh besar berwarna merah muda.

Bentuk kaki dan susunan jari:

Berjari 4, tiga didepan 1 di belakang dan tidak dihubungkan oleh selaput.

Bentuk ekor:

Ekor berwarna hitam dan berbentuk notched

Ukuran tubuh:

Burung ini mempunyai tubuh yang sangat besar, panjangnya mencapai 110 cm,

dengan tungkai panjang, leher panjang, dan paruh besar.

Topografi dan tanda-tanda pada tubuh:

Bulu umumnya berwarna hitam dan putih. Iris mata berwarna hitam. Sayap, punggung dan ekor berwarna hitam, tubuh bagian bawah dan kalung leher berwarna putih, kepala botak, tenggorokan berwarna merah jambu dengan bulu kapas putih halus pada mahkota. Leher dan muka berwarna kuning kaki berwarna coklat kehijauan sampai berwarna hitam.

Perilaku reproduksi dan bersarang:

Burung bangau tong-tong membuat sarang di pohon yang tinggi, di tepi pantai,

tambak. Burung bangau tong-tong kadang suka bersarang dengan elang.

Sarang bangau tong-tong tersusun dari ranting-ranting berisi 3-5 butir telur. Telur berwarna putih sebesar telur itik. Telur dierami oleh induk jantan dan betina bergantian selama 34 hari.

Habitat:

Sawah, padang rumput terbuka yang terbakar atau kebanjiran, gosong lumpur dan mangrove.

Suara:

Bangau ini termasuk burung pendiam, tidak banyak bersuara, selain desisan di sarang, kepakan sayap dan paruh.

Pakan:

Di habitat aslinya burung bangau tong-tong terutama memakan hewan air tawar,

serangga besar, katak, tikus, kerang, siput dan ikan.

Kebiasaan:

Di alam burung ini sering keliaran terbang sendiri atau berkelompok. Bangau memiliki kemampuan adaptasi untuk mengarungi air yang dangkal dan rawa-rawa dengan jari kaki yang berselaput. Kebiasaan hidupnya sendiri atau berpasang-pasangan. Jika diganggu maka paruhnya akan berderak-derak.

Penyebaran global:

Tersebar di India, Cina Selatan, Asia Tenggara dan Sunda Besar.

Penyebaran lokal dan status:

Rentan (Collar dkk. 1994). Tidak jarang di Sumatera timur. Di Sumatera selatan dilaporkan adanya kelompok ini antara 40-50 ekor. Di Kalimantan, agak jarang dan terdapat setempat, tetapi sarangnya tercatat di Kalimantan tengah bagian selatan. Di Jawa dan Bali pernah umum, tetapi sekarang jarang terdapat di daerah terbuka.

4. Angsa Hitam

Angsa hitam tampak belakang  dan depan. By:Hida, Mei 2011

Kepala Angsa hitam. By: Hida                  Angsa hitam

Klasifikasi:

Kerajaan : Animalia

Filum         : Chordata

Kelas        : Aves

Ordo         : Anseriformes

Famili        : Anatidae

Genus        :Cygnus

Spesies      :C. atratus

Deskripsi/ Karakter morfologi:

Tipe paruh dan ukurannya:

Paruh lebar dan memiliki ujung yang membulat, berwarna merah dengan garis putih diujungnya. Paruh ini digunakan untuk menyaring tanaman, biji dan hewan-hewan kecil dari lumpur dan air.

Bentuk kaki dan susunan jarinya:

Kaki berwarna abu-abu dan berselaput. Jari-jari depan saja yang bersambung dengan selaput renang.

Bentuk ekor:

Bentuk ekor pointed.

Ukuran tubuh:

Burung dewasa berukuran besar, dengan panjang mencapai +130cm.

Topografi dan tanda-tanda pada tubuh:

Seluruh bulu-bulunya berwarna hitam dengan perkecualian bulu sayap yang terdapat warna putih dan mempunyai pelumas bulu. Iris mata berwarna hitam. Angsa Hitam mempunyai leher yang sangat panjang dan membentuk huruf” S “. Burung betina serupa dan berukuran lebih kecil dari burung jantan. Anak angsa mempunyai bulu berwarna abu-abu. Kakinya berbentuk sebagai kaki perenang, dengan paruh berwarna merah. Mempunyai lamella yang merupakan tambahan zat tanduk yang berguna untuk menyaring lumpur pada kedua sisi paruhnya.

Perilaku reproduksi dan bersarang:

Hampir semua Angsa Hitam adalah monogami spesies. Kedua induk bersama-sama

membesarkan anak angsa dan bersarang di tengah-tengah danau yang dangkal.

Habitat:

Rawa, payau, mangrove, tambak, kolam, sungai. Dapat sampai jauh ke pedalaman.

Suara:

 

Pakan:

Tumbuh-tumbuhan dan invertebrata.

Kebiasaan:

Angsa Hitam tidak bermigrasi dan menetap di tempat dimana mereka menetas.

Penyebaran global:

Andaman, Sunda besar, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Perilaku angsa hitam di ragunan:

Perilaku angsa hitam yang diamati di ragunan dimulai dari pukul 09.09 sampai pukul 09.20. Pada pukul 09.09 angsa bersuara di darat. Pukul 09.10 angsa makan di darat. Pukul 09.13 menggoyangkan ekor. Pukul 09.15 angsa kembali ke air dan berenang. Pukul -9.18 Angsa makan di air dan menyelamkan kepala. Pukul 09.22 angsa makan di darat dan minum di air. Makanan yang dimakan berasal dari pengelola kebun binatang ragunan yaitu: toge, sawi, kangkung, pur dan jagung. Pada pukul 09.24 angsa menelisik bulu di air. Pada pukul 09.28 angsa berenang sambil menggoyangkan ekornya.

5. Burung Pelikan

Pelikan by:zuli Mei 2011         Pelikan sedang mencari makan.By: Zuli Mei 2011

Pelikan sedang makan (umpan)                Pelikan sedang terbang

Klasifikasi:

Kerajaan : Animalia

Filum       : Chordata

Kelas       : Aves

Ordo        : Pelecaniformes

Familia     : Pelecanidae

Genus      : P e l e c a n u s

Spesies    : Pelecanus conspicillum

Deskripsi/Karakter morfologi:

Tipe paruh:

Paruh berwarna merah jambu, besar dan lurus, dilengkapi dengan kait pada ujungnya yang berwarna kuning dan kantong besar. Paruh bagian bawah berfungsi untuk menyimpan makanan.

Bentuk kaki dan susunan jarinya:

Kaki berselaput penuh. Jari-jari berselaput renang penuh pada selaput jarinya.

Bentuk ekor:

Bentuk ekor rounded.

Ukuran tubuh:  

Burung air yang sangat besar +(150 cm), mempunyai berat badan berkisar antara 4,5-11 kg, dengan rentangan sayap 2,75 m.

Topografi dan tanda-tanda pada tubuh:

Burung ini biasanya putih atau sebagian besar putih. Sayap dan ekor sebagian berwarna hitam. Pada bagaian dada putih,punggung hitam, tungging hitam, tunggir putih. Selama musim mengeram warna kulit yang sulah, paruh, kantung, tenggorok, dan kaki menjadi lebih jelas. Ciri lainnya iris cokelat pucat, kulit muka tidak berbulu dan paruh berwarna merah jambu, kaki cokelat. Mempunyai kelenjar minyak. Perbedaan morfologi antara jantan dan betina tidak jelas, sehingga agak sukar membedakan pelikan jantan dengan pelikan betina.

Perilaku reproduksi dan bersarang:

Seekor pelikan mampu bertelur sebanyak 4 butir, telur berwarna putih dan berukuran besar. Telur-telur itu akan menetas setelah dierami selam 30 hari. Pengeraman dan pemeliharaan dilakukan oleh induk jantan dan betina secara baik, yaitu secara bergantian.

Habitat:

Pelikan suka hidup berkelompok dan berenang di danau, rawa-rawa, sungai, muara, teluk, dan lautan.

Suara:

Umumnya tidak bersuara, tetapi dapat mengeluarkan erangan dari tenggorokan.

Pakan:

Di alam burung pelikan memakan ikan dan cara menangkapnya dengan cara menyendokan paruhnya kedalam air yang terdapat ikan. Seekor pelikan dalam satu hari mampu memakan ikan seberat 6 kg.

Kebiasaan:

Burung pelikan merupakan burung yang hidup sosial, berkelompok dalam jumlah 50 sampai 40.000 berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain di daratan. Burung ini suka berenang di air, pakan utamanya adalah ikan, sambil berenang pelikan menangkap ikan dengan mudah, karena paruhnya yang bekerja serupa jala penangkap ikan. Paruhnya yang menyerupai kantung tidak seperti jala yang berlobang tapi sangat lentur dan mudah melar. Pada saat makan, paruh bagian bawah akan memelar.

Penyebaran global:

Berbiak di India barat daya, Sri Langka, Burma, dan Cina tenggara. Juga diperkirakan di Asia tenggara dan Filipina. Bermigrasi ke selatan.

Penyebaran lokal dan status:

Rentan (Collar dkk 1994.) Pada musim dingin ke Sumatera utara. Tercatat di Sumatera selatan, kemungkinan berbiak disana. Pada abad yang lalu, Spenser St John pernah menemukan burung (yang kemungkinan besar adalah jenis ini) di P. Blambangan, lepas pantai Sabah. Hanya sedikit catatan dari Jawa.

Perilaku pelikan di ragunan:

Perilaku pelikan yang diamati diragunan dimulai dari pukul 08.28 sampai pukul 09.01. Kami mengamati pada pukul 08.28 burung bergerak di air, meminum air, mencari makan, kemudian karena sepertinya tidak mendapatkan makanan burung pelikan ingin menelan botol minuman namun tidak bisa. Burung pelikan melakukan hal itu berkali-kali hingga dia merasa botol itu bukanlah makanannya. Pukul 08.35 pelikan naik kedarat dan membersihkan bulunya. Pukul 08.40 pelikan mengibaskan sayap kemudian membersihkan bulu kembali, kemudian kembali ke air untuk mencari makan. Pada saat makan, parh pelikan membesar, terutama paruh bagian bawah. Pukul 08.48 pelikan naik kedarat untuk berjemur dan menelisik bulu. Pukul 08.50 pelikan mengeluarkan kotoran dari duburnya. Kemudian pada pukul 09.00 pelikan menelisik bulu dan mengibaskan sayapnya sambil berlari.

6. Blekok sawah
Blekok sawah terbang                                                     blekok sawah bertengger

Klasifikasi
Kingdom: Animalia
Phylum    :   Chordata
Kelas       :   Aves
Ordo        :   Ciconiiformes
Famili      :   Ardeidae
Genus      :   Ardeola

Species    :   Ardeola speciosa
Deskripsi/ Karakter morfologi:

Tipe paruh:

Paruh berwarna kuning, ujung paruh hitam dan berbentuk meruncing.

Bentuk kaki dan susunan jari:

Jarinya 4 tidak dihubungkan oleh selaput. Tiga di depan dan 1 dibelakang (tipe kaki burung pejalan di air).

Bentuk ekor:

Bentuk ekor rounded.

Ukuran tubuh:

Tubuh berukuran kecil +(45 cm).                                     

Topografi dan tanda-tanda pada tubuh:

Bersayap putih, cokelat bercoret-coret. Pada waktu berbiak: kepala dan dada kuning tua, punggung nyaris hitam, tubuh bagian atas lainnya cokelat becoret-coret, tubuh bagian bawah putih, ketika terbang sayap terlihat sangat kontras dengan punggung yang gelap / hitam. Tak berbiak dan remaja: Coklat bercoret-coret. Iris kuning, paruh kuning, ujung paruh hitam, kaki hijau buram.

Perilaku reproduksi dan bersarang:

Berbiak : Desember- Mei, Januari-Agustus

Habitat:

Sawah, rawa, daerah berair,tambak dan mangrove

Suara:

”krak” jika ada yang mengganggu

Pakan:

Ikan belanak, ikan mujair, udang, ulat, dan laba-laba.

Kebiasaan:

Sendirian atau dalam kelompok tersebar, berdiri diam-diam dengan tubuh pada posisi rendah dan kepala ditarik kembali sambil menunggu mangsa. Setiap sore terbang dengan kepakan sayap perlahan-lahan, berpasangan atau bertigaan, beramai-ramai menuju tempat istirahat.

Penyebaran global:

Semenanjung Malaysa, Indocina, Sunda Besar, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali dan Sulawesi.

Penyebaran lokal dan status:

Tercatat di Sumatera selatan sebagai pengunjung tidak berbiak dari Jawa. Berbiak di Kalimantan tenggara, tetapi jarang mengunjungi Kalimantan bagian utara. Di jawa dan Bali masih agak umum dijumpai di daerah rawa dan tawar. Bersarang dengan dengan koloni burung air lain.

7. Kowak malam kelabu

      

Kowak pada saat bertengger                        Kowak pada saat memangsa ikan

Kowak malam kelabu

Klasifikasi:

Ker ajaan : Animalia

Filum       : Chordata

Kelas       : Aves

Ordo        : Ciconiiformes

Famili      : Ardeidae

Genus      : Nyticorax

Spesies    : N. Nyticorax

Deskripsi/ Karakter morfologi:

Tipe paruh:

Paruh agak panjang dan runcing, berwarna hitam.

Bentuk kaki:

Burung kowak malam kelabu mempunyai jumlah jari 4. Tiga di depan dan 1 dibelakang (tipe kaki burung pejalan di air).

Bentuk ekor:

Bentuk ekor rounded.

Ukuran tubuh:

Tubuh berukuran sedang +(61 cm).

Topografi dan tanda-tanda pada tubuh:

Berkepala besar, bertubuh kekar, berwarna hitam dan putih. Dewasa: mahkota hitam, leher dan dada putih, dua bulu panjang tipis terjuntai dari tengkuk yang putih, punggung hitam, sayap dan ekor abu-abu. Betina lebih kecil dari pada jantan. Selama waktu berbiak: kaki dan kekang menjadi merah. Remaja: tubuh cokelat bercoretan dan berbintik-bintik, harus ditangkap terlebih dahulu jika ingin membedakannya dengan remaja Kowak-malam merah. Iris kuning (remaja) atau merah terang (dewasa), paruh hitam (dewasa;merah), kaki kuning kotor.

Posisi terbang:

Gaya terbang mirip kalong.

Perilaku reproduksi dan bersarang:

Bersarang dalam koloni bersama burung air lain. Kadang bersama Kowak-malam merah. Sarang dari tumpukan ranting yang tidak rapi, tersembunyi pada tajuk pohon diatas air. Pada musim kawin sampai bertelur, burung ini mempunyai dua bulu putih hiasan yang memanjang dari belakang kepalanya hingga mencapai mantelnya. Telur berwarna biru hijau pucat, jumlah 2-4 butir. Berbiak bulan Desember-April, Februari-Juli.

Habitat:

Sawah, tambak, rawa, padang rumput, dan tepi sungai.

Suara:

Wok” atau ”kowak” yang parau sewaktu terbang, dan uakan sserak jika terganggu.

Pakan:

ikan, katak, serangga air, ular kecil, tikus kecil

Kebiasaan:

Bersifat nokturnal. Keluar mencari makan pada senja hari, terbang berputar-putar sambil bersuara. Pada siang hari burung ini beristirahat, bertengger sambil berkumpul dalam kelompok, di dahan-dahan atau di sela dedaunan pohon yang rimbun. Biasanya tidak jauh dari air.

Petang hari burung-burung itu mulai beterbangan di sekitar tempatnya beristirahat, dan di waktu magrib berkelompok-kelompok terbang meninggalkan peristirahatannya menuju tempatnya masing-masing untuk mencari makanan. Kelompok burung itu terbang dalam gelap sambil mengeluarkan bunyi-bunyi panggilannya yang khas, yang terdengar sampai jauh. Pagi-pagi buta kelompok itu akan kembali, juga sambil berbunyi-bunyi saling memanggil.

Penyebaran global:

Seluruh dunia.

Penyebaran lokal dan status:

Pengunjung di luar waktu berbiak ke Sumatera dan Kalimantan bagaian utara. Penetap di Kalimantan dan Jawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s