Kompetisi Intraspesifik Pada Tumbuhan

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI

Kompetisi Intraspesifik Pada Tumbuhan

 

 

                                     

           

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS SAIN DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1   Latar Belakang

            Di alam organisme tidak berdiri sendiri-sendiri atau tidak hidup sendiri-sendiri, melainkan menjadi suatu kumpulan individu-individu yang mengisi suatu tempat tertentu dan pada waktu tertentu, sehingga antarorganisme akan terjadi interaksi. Interaksi-interaksi yang terjadi dapat berupa interaksi antarindividu dari spesies yang sama (intraspesifik) atau interaksi antarindividu dari spesies yang berbeda (interspesifik) (Indriyanto 2008).

Interaksi spesies anggota populasi merupakan suatu kejadian yang wajar di dalam suatu komunitas, dan kejadian tersebut mudah dipelajari (Irwan,1992). Interaksi yang terjadi antarspesies anggota populasi akan memengaruhi terhadap kondisi populasi karena tindakan individu dapat memengaruhi kecepatan pertumbuhan ataupun kehidupan populasi. Menurut Odum (1993), setiap anggota populasi dapat memakan anggota-anggota populasi lainnya, bersaing terhadap makanan, mengeluarkan kotoran yang merugikan lainnya, dapat saling membunuh, dan interaksi tersebut dapat searah ataupun dua arah (timbal balik). Oleh karena itu, dari segi pertumbuhan atau kehidupan populasi, interaksi antarspesies anggota populasi dapat berupa interaksi yang positif, negatif dan nol.

Dengan kata lain, anggota-anggota populasi saling bersaing dan berkompetisi untuk mempertahankan kehidupan untuk eksis pada tempat tertentu.

Kompetisi antara tanaman tersebut terjadi karena faktor tumbuh yang terbatas. Faktor yang dikompetisikan antara lain hara, cahaya, CO2, cahaya dan ruang tumbuh. Besarnya daya kompetisi tumbuhan kompetitor tergantung pada beberapa faktor  antara lain jumlah individu dan berat tanaman kompetitor, siklus hidup tanaman kompetitor, periode tanaman, dan jenis tanaman. Oleh karena itu dalam praktikum ini kita akan mengetahui faktor penentu apa saja yang berpengaruh terhadap tanaman jagung dan kedelai yang di amati serta interaksi intraspesifik.

1.2  Tujuan

            Untuk mengamati pengaruh kompetisi intraspesifik terhadap tertumbuhan tanaman jagung dan kedelai.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Faktor-faktor Biotik dalam Interaksi Populasi

Faktor yang berpengaruh dalam interaksi populasi adalah faktor biotik lingkungan yang pada dasarnya bersifat acak tidak langsung terkait dengan perubahan komunitas, terutama faktor iklim dan curah hujan. Banyak data mengarahkan perubahan acak iklim itulah yang pertama-tama menentukan kerapatan populasi. Perubahan yang cocok dapat meningkatkan kerapatan populasi, sebaliknya populasi dapat mati kalau tidak cocok.

Pada dasarnya pengaruh yang baru diuraikan berlaku bagi kebanyakan organisme tetapi pengaruh yang sebenarnya malah dapat memicu perubahan mendasar sampai kepada variasai.

Jika pembahasan berbagai faktor abiotik lingkungan terkait dengan berbagai parameter toleransi, sebaran dan optimasi, faktor biotik tidak langsung terkait dengan faktor itu. Tetapi di sisi lain faktor biotik lebih realistik, bervariasi dan mampu menciptakan stabilitas populasi.

2.2 Persaingan dalam komunitas

Dalam artian yang luas persaingan ditunjukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Persaingan ini dapat terjadi antara individu yang sejenis ataupun antara individu yang berbeda jenis. Persaingan yang terjadi antara individu yang sejenis disebut dengan persaingan intraspesifik sedangkan persaingan yang terjadi antara individu yang berbeda jenisnya disebut sebagai persaingan interspesifik.

Persaingan yang terjadi antara organisme-organisme tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan hidupnya, dalam hal ini bersifat merugikan (Odum, 1971). Setiap organisme yang berinteraksi akan di rugikan jika sumber daya alam menjadi terbatas jumlahnya. Yang jadi penyebab terjadinya persaingan antara lain makanan atau zat hara, sinar matahari, dan lain – lain (Setiyadi, 1989). Faktor-fator intraspesifik merupakan mekanisme interaksi dari dalam individu organisme yang turut mengendalikan kelimpahan populasi. Pada hakikatnya mekanisme intraspesifik yang di maksud merupakan perubahan biologi yang berlangsung dari waktu ke waktu (Wirakusumah, 2003).

Harter (1961), mengatakan bahwa persaingan intraspesifik di gunakan untuk menggambarkan adanya persaingan antar individu-individu tanaman yang sejenis. Persaingan intraspesifik terdiri atas :

1        Persaingan aktivitas

2        Persaingan sumber daya alam

Dua jenis populasi tumbuhan dapat bertahan bersama bila individu-individunya secara bebas di kendalikan oleh hal – hal sebagai berikut:

  1. Perbedaan unsur hara
  2. Perbedaan sebab – sebab kematian
  3. Kepekaan terhadap berbagai senyawa racun
  4. Kepekaan terhadap faktor – faktor yang mengendalikan sama dan pada waktu yang berbeda.

Beberapa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persaingan intraspesifik dan interspesifik pada tumbuhan, yaitu :

  1. Jenis tanaman

Faktor ini meliputi sifat biologi tumbuhan, system perakaran, bentuk pertumbuhan secara fisiologis. Misalnya adalah pada tanaman ilalang yang memiliki sistem perakaran yang menyebar luas sehingga menyebabkan persaingan dalam memperebutkan unsur hara. Bentuk daun yang lebar pada daun talas menyebabkan laju transpirasi yang tinggi sehingga menimbulkan persaingan dalam memperebutkan air.

  1. Kepadatan tumbuhan

Jarak yang sempit antar tanaman pada suatu lahan dapat menyebabkan persaingan terhadap zat-zat makanan hal ini karena zat hara yang tersedia tidak mencukupi bagi pertumbuhan tanaman.

  1. Penyebaran tanaman

Untuk menyebarkan tanaman dapat dilakukan dengan penyebaran biji atau melalui rimpang (akar tunas). Tanaman yang penyebarannya dengan biji mempunyai kemampuan bersaing yang lebih tinggi daripada tanaman yang menyebar dengan rimpang. Namun persaingan yang terjadi karena faktor penyebaran tanaman sangat dipengaruhi faktor-faktor lingkungan lain seperti suhu, cahaya, oksigen, dan air.

  1. Waktu

Dalam hal ini waktu adalah lamanya tanaman sejenis hidup bersama. Periode 25-30% pertama dari daur tanaman merupakan periode yang paling peka terhadap kerugian yang disebabkan oleh persaingan.

2.3 Jagung

Tanaman jagung berasal dari daerah tropis yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar daerah tersebut. Jagung tidak menuntut persyaratan lingkungan yang terlalu ketat, jagung dapat tumbuh pada berbagai macam tanah bahkan pada kondisi tanah yang agak kering.

Tanaman jagung merupakan tanaman semusim yang termasuk dalam ordo  Tripsaceae, famili Poaceae, subfamili Panicoidae dan genus Zea. Tanaman jagung  memiliki akar serabut dengan tiga tipe akar, yaitu akar seminal yang rumbuh dari  radikula dan embrio, akar adventif yang tumbuh dari buku terbawah, dan akar  udara (brace root) (Sudjana et. al., 1991). Batang jagung berbentuk silindris dan  terdir dari sejumlah ruas dan buk, dengan panjang yang berbeda-beda tergantung varietas dan lingkungan tempat tumbuh (Goldsworthy dan Fischer, 1992). Suhu optimum untuk pertumbuhan jagung berkisar antara 20-26 C dengan curah hujan  500-1500 mm per tahun. Pada proses perkecambahan benih jagung memerlukan suhu yang cocok sekitar 30C. Jagung dapat tumbuh di semua jenis tanah, tanah  berpasir maupun tanah liat berat. Namun tanaman ini akan tumbuh lebih baik pada  tanah yang gembur dan kaya akan humus dengan pH tanah 5,5-7,0 (Suprapto dan Marzuki, 2002).

Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari. Tanaman jagung yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat/ merana, dan memberikan hasil biji yang kurang baik bahkan tidak dapat membentuk buah. Saat panen jagung yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik daripada musim hujan, karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil. Tanaman jagung membutuhkan tanah dengan aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik.

2.4    Kacang Kedelai

            Kedelai merupakan tanaman asli Indonesia, namun tanaman ini sudah diakui di dunia Internasional sebagai tanaman asli Jepang dan RRC yaitu kedelai putih. Kedelai merupakan sumber utama produk nabatai dan minyak nabati dunia.

            Kedelai dibudidayakan di lahan sawah maupun lahan kering (ladang). Penanaman biasanya dilakukan pada akhir musim penghujan, setelah panen padi. Pengerjaan tanah biasanya minimal. Biji dimasukkan langsung pada lubang-lubang yang dibuat. Biasanya berjarak 20-30cm. Pemupukan dasar nitrogen dan fosfat diperlukan, namun setelah tanaman tumbuh penambahan nitrogen tidak memberikan keuntungan apa pun. Lahan yang belum pernah ditanami kedelai dianjurkan diberi “starter” bakteri pengikat nitrogen Bradyrhizobium japonicum untuk membantu pertumbuhan tanaman. Penugalan tanah dilakukan pada saat tanaman remaja (fase vegetatif awal), sekaligus sebagai pembersihan dari gulma dan tahap pemupukan fosfat kedua. Menjelang berbunga pemupukan kalium dianjurkan walaupun banyak petani yang mengabaikan untuk menghemat biaya.

Biji kedelai berkeping dua, terbungkus kulit biji dan tidak mengandung jaringan endosperma. Embrio terletak di antara keping biji. Warna kulit biji kuning, hitam, hijau, coklat. Pusar biji (hilum) adalah jaringan bekas biji melekat pada dinding buah. Bentuk biji kedelai umumnya bulat lonjong tetapai ada pula yang bundar atau bulat agak pipih.

Biji kedelai yang kering akan berkecambah bila memperoleh air yang cukup. Kecambah kedelai tergolong epigeous, yaitu keping biji muncul diatas tanah. Warna hipokotil, yaitu bagian batang kecambah dibawah kepaing, ungu atau hijau yang berhubungan dengan warna bunga. Kedelai yang berhipokotil ungu berbunga ungu, sedang yang berhipokotil hijau berbunga putih. Kecambah kedelai dapat digunakan sebagai sayuran (tauge).


 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

3.1 Lokasi dan Waktu Pengamatan

Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium biologi, Pusat Laboratorium Terpadu (PLT) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tempat praktikum yang digunakan sebagai tempat pengamatan pertumbuhan tanaman dilakukan di lobi lantai 4 gedung PLT dekat jendela. Tempat pengukuran biomassa tumbuhan dilakukan di dalam laboratorium ekologi.

Pengamatan ini dilakukan selama 21 hari dari tanggal 22 maret 2011 hingga tanggal 12 April 2011

3.2 Bahan dan Alat

Alat yang digunakan dalam pengamatan ini adalah polybag, sekop, penggaris, luxmeter, soil tester, termometer, timbangan , gunting dan alat tulis.

Sedangkan bahan yang digunakan adalah tanah gembur, biji jagung, biji kacang kedelai, dan air keran untuk menyiram.

3.3 Cara Kerja

3.3.1 Tahap persiapan

Ditentukan lokasi untuk tempat pengambilan tanah. Tanah  yang diambil dimasukan ke dalam polybag kurang lebih tiga perempat dari isi polybag. Kemudian setiap  polybag diberi tanda. Polybag yang telah diisi tanah di diletakan di lobi dekat jendela yang kemudian dilakukan pengukuran faktor fisik diantaranya pH tanah, suhu tanah, kelembaban udara, intensitas cahaya, temperatur udara dan kelembaban tanah.

Sebelum biji-biji yang telah disiapkan ditanam sebaiknya dilakukan pemilihan terlebih dahulu. Dipilih biji yang paling bagus dan baik untuk di tanam.

3.3.2 Tahap Penanaman

Biji-biji yang sudah dipilih dengan baik kemudian ditanam di dalam polybag yang telah disiapkan. Pola penanaman disesuaikan dengan yang ditentukan di dalam modul praktikum. Setiap polybag yang telah ditanami biji ditandai dengan menggunakan kertas label. Pada polybag 1 ditanami satu biji jagung/kacang hijau, pada polybag 2 ditanami 2 biji jagung/kacang hijau, pada polybag 3 ditanami 4 biji jagung/kacang hijau, Jarak masing-masing biji diatur sedemikian rupa sehingga tidak terlalu berdekatan. Semua tanaman disiram setiap hari sebanyak 30ml.

Berikut adalah pola penanaman biji jagung dan kacang kedelai

 

 

3.3.3 Pengamatan

Pengamatan dilakukan dengan mengukur pertumbuhan tanaman secara berkala yaitu 3 hari sekali. Data yang didapat dicatat dan disusun berdasarkan hari atau tanggal pengamatannya hingga waktu panen tiba yaitu setelah sekitar satu bulan. Pada saat panen dilakukan pengukuran faktor fisik akhir seperti yang dilakukan di awal.

Tanaman yang dipanen dipisahkan setiap plot dan setiap jenisnya kemudian ditimbang berat basahnya dengan menggunakan timbangan, dicatat data yang diperoleh.

3.4 Analisis Data

Analisis data terhadap faktor fisik dilakukan dengan melakukan pengukuran faktor fisik sebelum tanam dan setelah panen dengan menggunakan alat-alat yang telah disediakan  seperti luxmeter untuk mengukur intensitas cahaya, soil tester untuk mengukur pH tanah dan kelembaban tanah, termometer untuk mengukur suhu tanah , dan sling untuk mengukur kelembaban udara

Sedangkan untuk data hasil pengamatan terhadap tumbuhan disajikan dalam bentuk grafik. Grafik yang disajikan didapat dari hasil pengukuran yang dilakukan secara bertahap, hasil pengukuran di catat dalam bentuk tabel. Data yang di tulis dalam bentuk tabel berasal dari hasil pengukuran pertambahan tinggi tanaman selama kurang lebih 4 minggu. Pemanenan tanaman hanya dilakukan pada bagian tumbuhan diatas permukaan tanah(taruk).

Untuk pengukuran biomassa hasil panen dilakukan dengan menimbang setiap tanaman secara terpisah. Dan dihitung pula jumlah tanaman yang ada untuk menetukan rata-rata biomassa setiap spesies.

Metode yang digunakan dalam menganalisis data yang ada yaitu menggunakan metode ANOVA (Analysis of Variance) yaitu metode analisis yang bertujuan untuk mengukur interaksi antar keragaman yang terjadi atau mengukur perbedaan antar perlakuan melalui uji F. Dalam praktikum ini yang digunakan adalah ANOVA satu arah yaitu hanya menganalisis satu variabel. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tujuan untuk mengukur perbedaan antar perlakuan jika menggunaka ulangan yang sama. Pada rancangan ini tidak terdapat unit kontrol sehingga yang sumber keragaman yang diamati adalah perlakuan dan galat. Berikut ini adalah rumus-rumus untuk mencari nilai-nilai yang diperlukan sebagai sumber keragaman yang akan diamati :

–         JKT (Jumlah Kuadrat Total)

–         JKA (Jumlah Kuadrat Perlakuan)

 

 

 

 

 

 

–         JKG ( Jumlah Kuadrat Galat)

 

 

–         Derajat kebebasan

a. v perlakuan

b v galat

c. total

–         Rataan Kuadrat

.

 

 

 

–         f hitung

 

 

 

 

 

 

 


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Faktor- faktor lingkungan yang mungkin diperebutkan oleh tumbuhan tumbuhan dalam kompetisi atau persaingan diantaranya adalah cahaya, air, tanah, oksigen, unsur hara dan karbon dioksida. Selain faktor yang diperebutkan terdapat pula faktor eksternal yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dari tanaman tersebut. Adapun faktor eksternal tersebut diantaranya adalah keberadaan hewan penyerbuk, agen dispersal biji, kondisi tanah, kelembaban tanah dan udara serta angin. Adanya gangguan dari spesies-spesies tertentu di suatu habitat juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup tumbuhan.

Tabel 1 Pengukuran Faktor Fisik

No

Faktor

Awal

Akhir

1

pH tanah

5,9

6,2

2

Suhu tanah

260C

270C

3

Kelembaban udara

62%

85%

4

Intensitas cahaya

2,48 Klx

1,33 Klx

5

Temperature udara

300C

290C

6

Kelembaban tanah

6,6

5,7

 

 

 

 

Enam faktor yang tertera  dalam tabel diatas merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan biji-biji yang di tanam. Namun dalam praktikum ini yang lebih dilihat adalah persaingan yang terjadi antara biji yang ditanam dalam 1 plot adalah persaingan intaraspesifik.

Pada pengukuran pertumbuhan biji jagung, berturut-turut biji yang paling tinggi pertumbuhannya adalah biji pada tanaman J1, J2, J4, J8 (lihat grafik 1). Hal ini disebabkan karena tidak adanya persaingan dari tumbuhan lain. Semakin banyak tumbuhan yang ditanam pada suatu tempat maka makin kecil pertumbuhan rata-ratanya, karena makin besar persaingannya untuk memperebutkan cahaya, air, tanah, oksigen, unsur hara dan karbondioksida.

Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari. Tanaman jagung yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat/ merana, dan memberikan hasil biji yang kurang baik bahkan tidak dapat membentuk buah.

Selain itu, tanaman jagung juga bersaing terhadap perebutan air, udara dan unsur hara sebagai komponen yang esensial. Menurut Indriyanto (2008), kemampuan tanaman untuk bersaing sangat bergantung pada kecepatan pertumbuhan akarnya. Kecepatan pertumbuhan akar bergantung pada kemampuan fotosintesis, hal itu berarti tidak mungkin dipisahkan dari faktor-faktor diatas. Ketidakmampuan tanaman untuk bersaing terhadap unsur hara, air, tanah dan udara yang ada di dalam tanah (substrat) berakibat dalam pengurangan pertumbuhan pucuk (tunas). Hal itu terjadi pada kelompok J8. Pada hari ke 18 (lihat grafik) terjadi pengurangan pertumbuhan dari 7,9 cm menjadi 6,2 cm, namun pada hari ke 21 tingginya kembali 7, 9 cm.

Hal ini dapat terjadi karena setelah kira-kira tanaman jagung berumur 20 hari, daun yang baru dideferensiasi dapat mengambil bagian dalam asimilasi C dan apa yang disebut periode pertumbuhan utama terjadi.  Pada saat teerjadi diferensiasi jaringan daun membuat adanya penurunan pertumbuhan karena terjadi pengeluaran berat kering total. Disini terjadi pembentangan daun baru dan peningkatan  pertumbuhan total dan pertambahan berat kering secara terus-menerus (Suwasono, 2002).

Pada pengukuran pertumbuhan biji kacang kedelai, didapatkan hasil yang berbeda dengan pertumbuhan biji jagung. Pertumbuhan yang paling besar berturut-turut adalah K2, K1, K4 dan K8 (lihat grafik 2). Hal ini dapat terjadi kemungkinan karena bibit pada K2 adalah yang paling bagus dari K1 dan pertumbuhan akar pada tanaman K2 lebih cepat dari pada K1 yang membuat penyerapan unsur hara, air, tanah dan udara  lebih baik dari K1.

Untuk menguji hipotesis dan mengukur perbedaan antar perlakuan dengan menggunakan ulangan yang sama maka digunakan metode analisis varians satu jalur atau ANOVA 1 jalur  dengan sistem Rancangan Acak Lengkap (RAL). Berikut adalah hasil dari perhitungan dengan menggunakan metode tersebut.

Tabel 2a Analisis Sidik Ragam (RAL) tanaman Jagung

Sumber Variasi

Jumlah

 Kuadrat

Derajat Kebebasan

Rataan

Kuadrat

f hitung

Nilai F tabel

5%

1%

Perlakuan

0,9053

3

0,3018

0,7067

4.07

7,59

Galat

3,4117

8

0,4265

Total

4,317

11

 

Kesimpulan : Tidak terdapat perbedaan yang sangat signifikan rata-rata biomassa tanaman jagung dari perlakuan pola penanaman jagung yang diberikan.

Tabel 2b Analisis Sidik Ragam (RAL) tanaman Kacang Kedelai

Sumber Variasi

Jumlah

Kuadrat

Derajat Kebebasan

Rataan

 Kuadrat

f Hitung

f tabel

5%

1%

Perlakuan

0,0541

3

0,01803

0,663

4.07

7,59

Galat

0,2177

8

0,0272

Total

0,2718

11

Kesimpulan : Tidak terdapat perbedaan yang sangat signifikan rata-rata biomassa tanaman kacang kedelai dari perlakuan pola penanaman jagung yang diberikan.

Berdasarkan kedua tabel analisis di atas maka diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan rata-rata dari biomassa pada tanaman jagung yang di tanam dengan 4 perlakuan dan kacang hijau dengan 4 perlakuan juga. Dalam pengujian ini data yang digunakan adalah data kelas. Hal ini dapat dilihat dari nilai f hitung yang lebih kecil daripada f tabel sehingga hipotesis H diterima dan H1dimana .

Pada grafik dibawah ini (lihat grafik 3) dapat dilihat bahwa terdapat berbedaan biomassa pada tanaman jagung yang ditanam oleh kelompok 1. J1 pada grafik tersebut bernilai 0 hal ini karena pada plot  J1 biji jagung tidak tumbuh, ada beberapa faktor yang mungkin menyebabkan hal tersebut terjadi yaitu: terjadi kesalahan pada saat pemilihan benih sehingga benih yang di tanam bukan benih yang baik, terjadinya pembusukan pada biji sebelum biji tersebut tumbuh. Pembusukan pada biji ini mungkin karena terlalu banyak air yang diberikan pada tanaman 1 biji jagung ini (setiap plot pada semua perlakuan dilakukan penyiraman sebanyak 30 ml). Selain itu juga karena jenis tanahnya yang mampu menyimpan air cukup banyak dilihat dari tingkat kelembaban tanahnya.

Pada kelompok tanaman J4 mempunyai biomassa yang paling besar dibandingkan dengan tanaman J1, J2 dan J8. Hal ini terjadi karena persaingan yang besar pada kelompok  tanaman J4 dan benih pada kelompok J4 adalah benih yang paling baik dari kelmpok tanaman J1, J2, dan J8. Kemudian pada kelompok tanaman J8 biomassa yang didapat lebih kecil dari pada J4 karena pada J8 terjadi persaingan yang lebih besar dan ketat antara tumbuhan. Persaingan yang ketat pada J8 disebabkan karena penanaman pada J8 lebih padat dari pada J4.

Pada grafik dibawah ini (lihat grafik4) dapat terlihat jumlah rata-rata biomassa semakin kecil nilainya dari K1 hingga K4. dalam hal ini jelas telah terjadi persaingan intraspesifik atau terjadi perebutan sumberdaya yang sama. Kerapatan suatu tanaman berpengaruh terhadap pertumbuhan dan biomassa tanaman. Namun berbeda denngan K8, biomassa K8 lebih besar dari pada K4. Hal ini dapat terjadi dimungkinkan karena benih K8 lebih baik dari K1, K2 dan K4 dan persaingan K8 tidak lebih besar dari K4 karena mempunyai kemampuan penyerapan sumberdaya yang lebih baik dari K4.

 

BAB V

KESIMPULAN

 

Berdasarkan percobaan dan pengamatan yang dilakukan terhadap tanaman jagung dan kacang kedelai selama kurang lebih 21 hari maka dapat disimpulkan bahwa :

  • Berdasarkan data biomassa jagung dan kacang hijau yang dihitung dengan menggunakan metode ANOVA 1 arah bahwa tidak terdapat perbedaan rataan biomassa yang signifikan terhadap keduanya tentunya dengan empat perlakuan.
  • Semakin rapat jarak suatu tanaman maka pertumbuhannya akan semakin terhambat karena persaingan mendapatkan sumberdaya pun semakin ketat.
  • Faktor-faktor yang mempengaruhi persaingan intraspesifik dan interspesifik adalah luasnya lahan tanam, jenis tanaman, kepadatan tumbuhan, dan waktu lamanya tanaman sejenis hidup.
  • Cepat atau lambatnya perkecambahan pada tanaman juga berpengaruh terhadap menangnya suatu tanaman dalam berkompetisi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arnita,indriani.1990.Ekologi Umum.Gita Media Press: Jakarta

 

Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Bumi Aksara: Jakarta

 

Odum, E.P. 1971. Dasar-dasar Ekologi (diterjemahkanTjahjono, S. dan Srigandono, B) Yogyakarta:

Penerbit Universitas Gajah Mada.

 

Setiadi, Dedi, Muhadiono, Ayip Yusron.1989. Penuntun Praktikum  Ekologi.PAU Ilmu Hayat IPB:

Bogor.

 

 Sowasono, Heddy. 2002. Ekofisiologi Tanaman. Rajawali Press: Jakarta.

 

Wirakusumah, S. 2003. Dasar-dasar Ekologi bagi populasi dan Komunitas.

UI-Press:Jakarta

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

  1. Tinggi Tanaman
  1. Tinggi rata-rata jagung
Perlakuan Hari ke
3 6 9 12 15 18 21
J1 2,4 4,1 4,3 6,1 8,2 10,2 12
J2 2 6,3 6,9 8,1 10,1 10,2 10,3
J4 2 3,8 4 5,3 7 8 8,9
J8 1,8 2,1 3 3,8 7,9 6,2 7,9
  1. Tinggi rata-rata kacang kedelai
Perlakuan Hari ke
3 6 9 12 15 18 21
K1 3,4 3,5 4,8 6,1 8,2 11,5 13,6
K2 3,1 5,3 5,9 7,1 8,1 12,2 14,3
K4 2 3,8 5 6,3 7 9,5 10,9
K8 2 2,5 3,6 4,9 6,7 8,5 9,2
  1. Biomassa tanaman
  1. Jagung
Perlakuan Berat  biomassa jagung Jumlah Rata-rata
1 3 5
J1 0 0 0 0 0
J2 1,4 0 0,18 1,58 0,53
J4 1,9 0,13 0,23 2,26 0,75
J8 0,9 0,39 0,18 1,47 0,49
Total 4,2 0,52 0,59 5,31 1,77
  1. Kacang kedelai
Perlakuan Berat rata-rata biomassa kacang kedelai Jumlah Rata-rata
1 3 5
K1             0,6 0,3 0,4 1,3 0,43
K2 0,4 0,15 0,4 0,95 0,32
K4 0,2 0,3 0,28 0,78 0,26
K8 0,55 0,23 0,06 0,84 0,28
Total 1,75 0,98 1,14 3,87 1,29

           

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s