IRONI MEMANG, TAPI INI KENYATAAN

Akhirnya setelah lama tidak menulis, sekarang bisa menulis lagi. Sore ini matahari tetap bersinar cerah dan  berjalan untuk pergi meninggalkan siang. Hari ini adalah jadwal berbuka puasa dengan teman-teman SD. Saya bersekolah di SD Negeri daerah kebayoran lama selatan dan sekarang termasuk SD yang cukup menjadi favorit di  wilayah itu.

Melihat teman-teman SD yang sekarang sudah memiliki masing-masing kegiatan dan memiliki masing-masing gaya. Ada yang kuliah, ada yang bekerja, dan ada yang masih saja semaunya sendiri.

Waktu berbuka sudah tiba dan kami pun masih menunggu antrian memesan makanan. Oiya kami makan di tempat makan yang baru kami kenal, namanya Richeese Factory. Ternyata ini adalah tempat makan yang masih satu perusahaan dengan jajanan kesukaan saya yaitu richeese yang biasanya dijual dengan harga 500 rupiah.

Saya memesan wing combo(sayap ayam) yang didalamnya ada saus keju, sup bertabur keju dan slash (seperti ice krim). Ternyata wing combo ini ada level nya, dari level 0 sampai level 5. seperti keripik maichi. Saya memesan level 2 (hot) dan itu memang benar-benar hot. Leo salah satu teman saja sampai keringetan dan tak tahan akan pedasnya, padahal itu baru level 2. Bagaimana kalau level 5?

Sambil makan-makan, sambil ngobrol-ngobrol bersama teman-teman. Disamping saya ada Adin, depan saya Jason dan samping Jason ada Leo. Mereka berbicara tentang tawuran yang terjadi antar geng yang memang mereka kenal. Mereka sangat update tentang info geng antar kampung ataupun geng motor yang berkeliaran di Jakarta. Tak jauh beda di jaman SD yang memang setelah pulang sekolah mencari SD lain untuk menjadi tanding tarung nya. Pembunuhan yang terjadi di daerah di pondok pinang pun menjadi pembicaraan yang seru bagi mereka.  Modif-memodif motor pun tak kunjung ketinggalan.

Kalau kiting, pakdeh dan steven mereka asik membicarakan band yang mereka lakukan. Tapi yang banyak jauh berbeda dari jaman SD adalah steven. Dia yang tadinya merupakan murid yang lugu namun agak malas sih, sekarang menjadi anak yang paling ancur pergaulannya sepertinya, lebih blangsak dari teman-teman yang lain. Kupingnya yang dipenuhi tindikan, tak luput bibirnya pun terisi tindikan. Obat-obatan terlarang sudah bukan hal aneh baginya. Itu adalah makanan sehari-harinya mungkin.

Melihat sejarahnya, memang sewaktu masih SD, kakak dan om-omnya merupakan pengguna obat-obatan terlarang itu, dan beberapa ada yang mati karena overdosis. Memang buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Tapi agak kasihan saya meihat teman saya seperti itu, walaupun mungkin dia merasa lebih PD saat menggunakan obat itu, tapi dia seakan-akan tak sadar akibat yang akan dihadapinya di masa depan nanti.

Waktu sudah menunjukkan pukul 18:40, dan kami belum sholat maghrib. Akhirnya ada teman kami tia dan lia yang mengingatkan saya. Ojai lu gak sholat maghrib? Oiya ini mau sholat, jawab saya.

Saya pun mengajak teman-teman yang lain untuk sholat maghrib. Cuy sholat yuk. Oiya duluan aja Jai. Jawab teman-teman. Ayuk sholat yuk cui. Udah duluan aja jai, kita nitip aja sholatnya Jai. Saya hanya beristighfar dalam hati.  Ay beneran ni gak ada yang mau ikut ne? Lia dan Tia pun menyuruh teman-teman cowok yang lain untuk sholat, karena memang mereka berdua sedang tidak sholat. Jason sholat sonoh temenin Ojai, kata lia. Sory lia gua lagi dapet nih. Saya pun mencoba mengajak lagi. Beneran nih pada gak mau ikut? Gak nyesel? Iya duluan aja Jai, kata adin.

Saya pun hanya beristighfar dalam hati dan merasa kasihan dengan keadaan mereka. Saya sengaja tak menggunakan dalil-dalil tentang sholat yang saya hafal, karena itu bakalan di ketawain ama mereka. Dasar pak ustad kata mereka. Karena itu pernah saya lakukan satu tahun yang lalu pada mereka, dibuka bersama sebelumnya.

Mungkin mereka tahu kewajiban tentang sholat, tapi rasa enggan dan malas yang menimpa mereka mengalahan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah. Mereka pun tahu tentang tidak bolehnya pacaran. Iseng-iseng kiting ngeledekin saya dan lia. Jai lu disukain ama Lia. Lia lu disukain ama Ojai. Lalu kata pakdeh, Ojai mah gak mau pacaran, pacaran mah gak boleh, dia mah taarufan terus nikah. Candanya.

Saya pun merasa sedikit bahagia karena mereka sebenernya juga tahu tentang hukum-hukum agama, tetapi yang saya sayangkan mereka belum mau melaksanakannya. Mungkin ini juga hal yang terjadi di kampus. Banyak teman-teman saya di kampus yang seperti ini. Sebenarnya kita jangan pernah menghindar dengan orang-orang seperti ini. Kita harus memberikan pengertian sedikit demi sedikit terhadap mereka, hingga mereka sadar.

Saya merasa beruntung mempunyai teman-teman di tempat berbeda, yang baik dan selalu mengingatkan untuk berbuat kebaikan. Karena saya selalu berkumpul dengan teman-teman yang biasa disebut aktivis dakwah. Tapi sebagian yang katanya disebut aktivis dakwah hanya mengingatkan kebaikan kepada aktivis dakwah yang lain. Bagi orang-orang yang agak blangsak (kurang baik) mereka seakan-akan menjauhi sama sekali. Saya hanya berhusnudzon mungkin mereka takut terbawa efek negatif atau punya strategi sendiri dalam menyampaikan kebaikan.

Tidakkah kita ingin berbagi keberuntungan terhadap teman-teman yang belum mendapatkannya kawan? Seperti yang kita rasakan saat ini kawan. Jika ada yang mengaku aktivis dakwah tetapi tidak ingin berbagi keberuntungan yang dialaminya terhadap teman-teman yang belum mendapatkannya, berarti ada pertanyaan dalam diri, terutama diri saya sendiri. Apakah benar engkau aktivis dakwah?

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s