Pernahkah kita rindu akan hal ini?

Beliau bernama Abdullah. Sekarang berumur 40 tahun. Dia tinggal disebuah kota yang disana terdapat Masjid Nabawi. Iya benar di kota Madinah.

Pada umur yang ke 20 beliau harus mengalami tragedi naas. Dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan kedua tangannya harus diamputasi.

Disaat beliau menjadi tulang punggung keluarga, beliau malah kehilangan kedua tangannya. Sungguh naas memang, tetapi ini bukan halangan baginya.

Dia bekerja apa yang bisa dilakukannya. Dari berjualan di pasar dan menjadi tukang parkir dilakukan untuk menghidupi dirinya, ibu dan kedua adiknya. Dia mempunyai sebuah cita-cita yang suci, cita-cita yang paling dia idam-idamkan yaitu menjadi penghafal Quran.

Walaupun dia cacat, bukan halangan baginya untuk tetap mempunyai cita-cita dan meraihnya. Kedua tangannya sudah diamputasi. Quran pun tak bisa dia pegang. Apalagi membolak-balik halaman demi halaman. Maka diapun menghafal Al-Quran melalui suara kaset yang dia ulang-ulang, lalu dia ikuti perlahan demi perlahan.

Selama 20 tahun dia melakukan itu dengan istiqomah. Setiap waktu luang dia manfaatkan untuk menghafal Al-Quran. Akhirnya sekarang di umurnya yang ke 40 tahun dia telah menjadi hafidz. Subhannalllah, sungguh usaha yang dipenuhi dengan keyakinan dan kesabaran maka akan berbuah manis.

Di suatu waktu, ada orang Indonesia yang bertemu dengan Abdullah, sebut saja namanya Budi. Kemudian Budi berbincang-bincang dengan Abdullah.

Budi:
Wahai Abdullah, assalamualaikum,  selamat anda telah berhasil menghafal Al-Quran. Saudaraku, seandainya semenit saja kau diberikan kesempatan oleh Allah untuk kembali mempunyai kedua tanganmu, apa yang akan kamu lakukan? 3 hal saja.

Abdullah menjawab:
Waalaikumussalam wr wb saudaraku. Pertama jika aku diberikan kesempatan semenit saja untuk memiliki kedua tangan ini, kembali memiliki jari jemari, maka hal pertama yang aku inginkan adalah aku ingin bersujud kepada Allah. Bayangkan sudah dua puluh tahun aku tidak pernah bersujud kepadaNya. Aku ingin merendahkan diriku kepadaNya. Aku ingin meminta ampun kepadanya. Aku sangat rindu akan hal itu.

Kedua jika aku diberikan kesempatan semenit saja untuk kembali memiliki kedua tangan ini, aku ingin mencium kedua tangan ibuku. Sudah dua puluh tahun aku tidak pernah mencium tangan ibuku. Sudah dua puluh tahun kawan, sudah dua puluh tahun.. Aku ingin sekali melakukan hal itu.

Ketiga jika aku diberikan kesempatan semenit saja untuk kembali memiliki kedua tangan ini, aku ingin memegang Al-Quran dan membacanya secara langsung. Sungguh sudah dua puluh tahun aku belum pernah lagi memegang dan membaca secara langsung. Selama ini yang ku lakukan hanya mendengarkannya saja dan mengikutinya. Tak pernah lagi ku memegang Al-Quran walau semenit saja. Aku rindu hal itu saudaraku.

Mendengar apa yang dikatakan Abdullah, Budi pun tak tahan untuk meneteskan kedua air matanya..

————————————————————————————————-

Ini menjadi renungan untuk kita kawan. Pernahkah kita rindu jika bersujud kepada Allah? Pernahkah kita rindu untuk mencium kedua tangan ibu kita? Pernahkah kita rindu untuk memegang dan membaca Al-Quran? Pernahkah kita rindu akan hal itu kawan? Mari kita renungkan sejenak.

Kita yang masih mempunyai kedua tangan kita. Jari jemari masih lengkap. Apakah kita rindu untuk bersujud kepadaNya? Apakah sujud yang kita lakukan setiap hari hanya sekedar formalitas belaka dan hanya sekedar rutinitas belaka. Bukan merupakan kebutuhan bagi kita. Bahkan mungkin kita tidak pernah berniat untuk bersujud. Sehingga sholat lima waktu pun kita lalaikan.

Kita yang masih mempunyai kedua tangan kita. Jari jemari masih lengkap. Apakah kita masih suka mencium tangan ibu kita? Disaat ingin meninggalkan rumah, kita hanya melongokkan muka saja, Ibu aku berangkat ya.. Mah aku berangkat ya.. lalu langsung nyelonong pergi tanpa sempat mencium kedua tangannya. Akankah kita lupa akan ridho orang tua?

Kita yang masih mempunyai kedua tangan kita. Jari jemari masih lengkap. Apakah kita rindu  untuk membaca Al-Quran? Mungkin menyentuhnya saja seakan-akan jijik. Sehingga hanya ditaruh diatas lemari hingga berdebu. Bukankah Al-Quran itu pedoman hidup kita kawan? Bukankah Al-Quran itu petunjuk hidup kita? Jadi mengapa kita masih tidak mau membaca Al-Quran kawan?

Coba kita renungkan.. Siapakah yang salah? Apakah ini salah sajadah, sehingga kita tidak ingin bersujud? Apakah ini salah tangan ibu kita, sehingga kita tidak mau mencium kedua tangannya, atau ini salah Al-Quran sehingga kita tidak ingin membacanya?

Mari di hari-hari terakhir Ramadhan ini, yuk sama-sama kita manfaatkan waktu sebaik-baiknya. Belum tentu kita masih bisa bertemu Ramadhan di tahun depan. Bahkan belum tentu pula kita dapat merasakan lebaran tahun ini? Karena kita tidak tahu kapan kita masih hidup di dunia ini.

Wayoujiai
Jakarta, 14 Agustus 2012
Terinspirasi dari kisah nyata yang diceritakan pada kultum Tarawih oleh
Ustd Abdur Rahim di Masjid Nurul Iman.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s