Poligami Sunnahnya Nabi Ibrahim

Image
Jika ada yang menanyakan siapa Nabi yang melakukan poligami? Pasti jawabnya Nabi Muhammad. Tapi kita suka terlupa bahwa Nabi Ibrahim pun melakukan poligami. Lalu mengapa Nabi Ibrahim melakukan poligami?

Jika kita mengulas kembali kehidupan sejarah Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim adalah nabi yang hebat, dia bisa mengalahkan kekuasaan Raja Namrud, berhala-berhala dilibas pada zamannya, dan banyak manusia yang mengikuti jalannya. Dia bagaikan cahaya didalam kegelapan, memberikan petunjuk jalan kebenaran. Dia bagaikan oase di padang gurun yang gersang dan tandus, memberikan kesejukan bagi jiwa-jiwa manusia yang kering akan iman.

Disaat Nabi Ibrahim kurang lebih berumur 100 tahun dan Siti Saroh kurang lebih berumur 80 tahun, mereka belum juga mempunyai anak. Kemudian Nabi Ibrahim pun memohon kepada Allah agar dikarunia anak. Kemudian Allah pun menjawab permohonan sang nabi. Saat sang nabi berbincang dengan istrinya mengenai keturunan, tiba-tiba sang isri mengatakan kepada sang nabi agar dia menikah lagi supaya bisa mempunyai keturunan. Akhirnya Nabi Ibrahim pun setuju. Dalam melakukan poligami ini sang istri yang memilihkan istri untuk sang nabi. Akhirnya terpilihlah Siti Hajar, seorang budak wanita berkulit hitam, berumur 17 tahun, dipilihnya untuk sang nabi.

Tak berapa lama setelah menikah, Siti Hajar mulai merasakan tanda-tanda mempunyai anak. Selama 9 bulan mengandung, lahirlah Nabi Ismail. Singkat cerita, 15 tahun setelah kelahiran Nabi Ismail, Nabi IBrahim mendapatkan wahyu dari Allah untuk mengurbankan anak semata wayangnya Nabi Ismail. Tanpa adanya pemaksaan, Nabi Ismail pun merelakan raganya untuk disembelih, sehingga sampai sekarang umat muslim melakukan qurban di tanggal 9 Zulhijah.

Dari cerita singkat diatas, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan, mengapa Nabi Ibrahim melakukan poligami. Jika kita mau mengikuti sunahnya, maka ada beberapa hal yang harus kita perhatikan.

1. Seorang suami yang melakukan poligami harus berumur 100 tahun

2. Seorang suami dapat melakukan poligami jika mendapatkan restu dari istri pertama.

3. Istri kedua harus dipilih oleh istri pertama.

Itulah 3 syarat diatas jika kita mau mengikuti sunnah Nabi Ibrahim. Mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat.

Tulisan ini adalah salah satu hikmah dari ceramah di Idul Adha 1434 H.

Mau lihat hikmah Idul Adha yang lain, lihat pula
https://wayoujiai.wordpress.com/2013/10/15/perbedaan-nabi-ibrahim-nabi-muhammad-dan-pemimpin-saat-ini/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s