Sense of Crisis and Sense Of Belonging “Terhadap Tahun Baru Hijriah dan Tahun Baru Masehi”

Sekarang kita masih dalam suasana tahun baru hijriyah. Alangkah baiknya  dalam suasana ini kita bermuhasabah terhadap amal-amal kita.

Apakah yang kita lakukan lebih banyak ibadahnya? Apakah yang kita lakukan lebih banyak melakukan hal yang sia-sia ? Atau bahkan kita lebih banyak melakukan kemaksiatan.

Imam Al-Ghazali mengajarkan kepada kita untuk mengevaluasi kegiatan selama kita hidup dengan cara mengevaluasi kegiatan satu hari. Berapa jam kita tidur dalam sehari? Berapa jam kita bekerja dalam sehari? Berapa jam kita membaca Al-Quran dalam sehari? Berapa jam kita melakukan hal-hal yang lain dalam sehari?

Jika kita tidur sehari 8 jam. Maka jika kita hidup selama 60 tahun, waktu yang kita manfaatkan untuk tidur adalah 20 tahun.

Dari hal kecil ini kita bisa menginstropeksi diri kita. Sudah berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk aktifitas kebaikan? Sudah berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk aktifitas kemaksiatan?

Sungguh jatah waktu kita untuk hidup semakin berkurang. Detik demi detik yang kita lewati, tak terasa sudah berganti menit, tak terasa sudah berganti jam, tak terasa sudah berganti hari, tak terasa sudah berganti minggu, tak terasa sudah berganti bulan, tak terasa sudah berganti tahun. Dan tak terasa bahwa kita semakin tua dan semakin mendekati  ajal. Karenanya Allah pun sampai bersumpah terhadap waktu.

Jika manusia melakukan sumpah untuk meyakinkan orang lain bahwa dia berkata jujur dan ini adalah hal yang sangat-sangat penting. Maka Allah bersumpah untuk memberitahukan kepada manusia bahwa waktu adalah hal yang sangat-sangat penting yang harus dimanfaatkan dengan baik.

Allah bersumpah didalam Al-Quran terhadap waktu lebih dari sepuluh kali. Demi waktu fajar, demi waktu dhuha, demi masa, demi malam, demi siang, dan sebagainya.

Maka sebagai manusia, kita harus bersyukur karena masih diberikan umur, masih diberikan kesempatan hidup untuk memperbaiki amalan-amalan kita. Karena sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran (Al-Ashr, 2-3).

Tak terasa pula tahun baru masehi tinggal 1 bulan lagi. Biasanya perayaan tahun baru masehi selalu dirayakan dengan meriah bahkan menghambur-hamburkan uang. Membeli petasan yang banyak. Membeli makanan yang banyak sehingga tidak habis dan dibuang. Malah malam tahun baru dimanfaatkan bagi para pasangan pemuda untuk melakukan zinah. Pergi ke puncak, pantai atau tempat lain yang kondusif untuk melakukan zinah.

Marilah kita mohon ampun kepada Allah. Mudah-mudahan kita bisa menghindari hal-hal buruk dalam merayakan tahun baru.   Imam Al-Ghazali menyampaikan, istighfar itu bukan hanya perkataan, namun istighfar esensinya ada ditindakan. Banyak orang yang beristighfar dimasjid, baru keluar dari masjid sudah melakukan kemaksiatan. Oleh karena itu, istighfar itu membutuhkan realisasi. Bukan hanya sekedar teori atau retorika belaka.

Diakhir ceramah jumat ini, mari kita hindari  menghambur-hamburkan harta dengan sia-sia dalam merayakan tahun baru. Alangkah baiknya jika kita merayakan tahun baru dengan memuhasabah diri kita. Agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

                                    Disadur dari Ceramah Jumat di Masjid Nurul Iman
22 November 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s