Bertahan untuk Tetap Menulis

bertahan untuk tetap menulis

Tidak mudah memang untuk bertahan tetap menulis. Rasa bosan, rasa untuk segera menyelesaikan tulisan menyertai isi hati. Semangat dan kemalasan terus bertarung. Jika mampu bertahan untuk tetap menulis dan tidak terburu-buru menyelesaikan tulisan, maka semangat yang menang. Jika baru satu paragraf saja sudah selesai menulis, maka kemalasan yang menang.

Bertahan untuk tetap menulis dibutuhkan kesabaran. Cita-cita dan harapan yang mampu menambah daya kesabaran. Bertahan untuk tetap menulis dibutuhkan keteguhan. Mengingat untuk siapa dan mengapa menulis meneguhkan diri untuk tetap menulis. Bertahan untuk tetap menulis dibutuhkan keikhlasan. Berkorban akan waktu, berkorban melakukan kesenangan yang lain menguatkan keikhlasan.

Bertahan untuk tetap menulis bukan untuk memuaskan keinginan diri sendiri, namun merupakan sebuah penemuan jati diri. Bertahan untuk tetap menulis menjadikan diri kita tahu, siapa diri kita sebenarnya. Kebuntuan akan menulis memberi tahu diri kita akan sedikitnya ilmu yang dipahami. Kekacauan struktur kata yang digunakan memberi tahu bahwa masih lemahnya kita dalam berkata-kata.

Bertahan untuk tetap menulis, bukan untuk memamerkan diri bahwa diri kita adalah seorang penulis. Bertahan untuk tetap menulis, sarana bagi diri kita bahwa kita pernah hidup, bahwa kita pernah ada, bahwa kita akan terus ada. Bertahan untuk tetap menulis, sarana bagi diri untuk memperbaiki diri, siap menerima kritikan bukan menunggu untuk menerima pujian. Bertahan untuk tetap menulis, kata demi kata, baris demi baris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s