Catatan Ceramah di Masjid Agung Sunda Kelapa 28 Agustus 2013 “Kritik Orang Tak Beragama terhadap Orang Beragama”

o_1a1jhkfe81s7foac1m7ge2i1mnaa.jpg

sumber ilustrasi

Banyak kritik terhadap agama karena pelaku orang-orang yang beragama. Kritik terhdap agama lebih terarah kepada orang-orang yang beragama.

Antara Islam dengan Muslim bisa jadi 2 hal yang berbeda. Idealnya seorang muslim harusnya Islam. Kalau Islam itu nilai, perlaku, karakter. Kalau muslim itu identitas. Islam dalam arti nilai, bisa kita dapatkan dari orang yang bukan muslim atau masyarakat muslim. Maksudnya?

Di Jakarta ini muslim tapi tidak islami. Kalau masih orang buang sampah sembarangan itu berarti gak islami. Singapura yang bukan orang muslim bisa jadi Islami dalam arti nilai. Ketika pemahaman terhadap nilai-nilai Islam belum baik, itu akan menjadi bumerang. Contohnya, anarkisme sering di tuduhkan dilakukan oleh orang islam.

Dimana sebenarnya kunci orang-orang Islam itu tidak Islami. Kuncinya adalah seringkali kita berhenti beribadah ketika selesai beribadah. Contoh selesai sholat, back to nature. Yang korup; korup lagi, yang setan; setan lagi, yang main timbangan; timbangan lagi.   Sholat dalam arti fikihnya dibuka dengan takbir ditutup dengan salam itu selesai. Namun etika sholat tidak seperti itu. Innasholata tanha anil fahsya i wal munkar. Seharusnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Itulah kritik bagi orang-orang yang tidak beragama kepada orang-orang yang beragama. Buat apa kita beragama, kalau tidak ada perubahan yang lebih baik. Bagi mereka untuk menjadi orang baik, tidak harus beragama. Itu dibuktikan oleh mereka. Dan mereka semakin menegakkan prinsip mereka ketika orang beragama menunjukkan sikap-sikap yang buruk.

Seharusnya kita lebih baik dari orang-orang yang tidak beragama. Bukan hanya baik tapi juga benar. Tapi seringkali kita terjebak beribadah ketika ibadah itu selesai. Aktivitas sholat kita, setiap perpindahan gerak, kita selalu katakan Allahu akbar (Allah maha besar). Seharusnya aktivitas kita sehari-hari jangan melepaskan kebesaran Allah.

Kata Nabi, orang-orang yang duluan masuk surga, yaitu orang-orang yang selalu memuji Allah. Jika kita baik dalam kehidupan sehari-hari, maka kritik terhadap orang-orang yang beragama tidak akan terjadi lagi. Kata muslim itu ada hubungannya dengan kata-kata selamat. Jika kita orang Muslim, maka kita harus bisa menjamin saudaranya yang muslim dari kedzhaliman mulut dan tangan kita.

Rasulullah selalu mengajarkan, kita harus bertanggung jawab untuk bertanggung jawab terhadap produk yang kita jual. Barang-barang Made in Germany itu sudah tidak dipertanyakan lagi kualitasnya, karena sudah melewati control quality yang ketat, dan itu sangat islami.

Di Jerman ketika lampu lalu lintas berwarna kuning, kendaraan sudah berhenti. Kalau kita, lampu merah masih terus berjalan. Itu berarti kita merampas hak orang yang mempunyai lampu hijau. Dan bisa disimpulkan apakah kita sudah islami atau belum.

Singapura dengan kebersihannya. Jerman dengan pertanggung jawaban kualitas barangya. Inggris dengan menjaga waktunya. Jepang dengan etos membacanya. Itu semua nilai-nilai Islam.

Menurut cerita Dr. Jerry D Gray, seorang mualaf asal Amerika. Dia pindah ke Jeddah dan dia balik lagi ke Amerika. Justru katanya, Los Angeles itu lebih Islami dari Jeddah dalam arti nilai.

Jangan salahkan gajah dan harimau masuk kampung, karena orang kampungnya masuk hutan. Padahal pesan Al-Quran adalah menjaga lingkungan. Umar mengingatkan kita, sesungguhnya Allah telah muliakan kita dengan Islam. “Ketika kalian mencari aturan-aturan lain di luar Islam, maka siap-siap atas kemurkaan Allah.”

Sekarang sudah tercipta eksklusifisme beragama, itu tercipta sekarang. Padahal dahulu Rasulullah telah menyatukan orang-orang Anshar dan Mekah. Allah senang kalau ada hambanya ada yang sering sujud. Orang yang banyak sholat dan sujud itu tawadhu. Ini nilai Islam. Ingat seringkali kita berhenti beribadah ketika selesai beribadah.

Kita sering ingat dengan simbol tapi lupa dengan nilai. Jujur dan banyaklah membaca, serta komitlah pada waktu. Ketika orang itu bangga bahwa dia tidak beragama, kita harus lebih bangga karena kita beragama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s