Menghadapi Kematian

mengingat kematian

Kita sebagai orang beriman tidak meragukan kematian. Kita tidak perlu bercita-cita untuk mati. Karena kita pasti mati.

Seberapa besar orang menghindar, tetap saja kita tidak akan mampu menghindari kematian. Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Al Jumuah:8).

Kita juga tidak akan pernah tahu, kapan kita akan mati. Kematian seakan-akan menjadi sebuah misteri. Ada empat misteri kematian:

  1. Kita tidak tahu pada usia berapa meninggal dunia. Tidak sedikit orang yang masih muda dan bugar mati duluan dibandingkan usia yang sudah lansia. Nabi Adam berumur sekitar 1000 tahun. Nabi Nuh 150 tahun. Dulu orang yang meninggal dunia pada umur 200 tahun, disebut meninggal remaja. Sekarang, ketika umurnya sudah mencapai angka 70, dia disebut orang yang berumur panjang.
  2. Kita tidak tahu kenapa dan sebab apa kita meninggal. Ada yang karena sakit, kecelakaan , bahkan saat tidur. Baru-baru ini saja ada yang mati karena minum kopi. Polisi sedang mencari-cari penyebabnya apakah dia diracun, keracunan atau mati bunuh diri. Tapi yang pasti, dia mati karena detak jantungnya berhenti berdenyut dan nyawanya telah diambil oleh malaikat Izrail.
  3. Kita tidak tahu dimana kita menemui ajal. Di daratkah, lautkah, atau diawan kita tidak tahu. Kalau yang mati di darat sudah tentu banyak. Orang yang mati tenggelam dan tidak ditemukan lagi mayatnya juga tidak sedikit. Ada pula yang mati di langit, diatas pesawat yang sedang terbang, meledak dan hangus terbakar semua isinya.
  4. Kita tidak tahu dalam keadaan apa kita meninggal dunia. Janganlah kita mati kecuali dalam keadaan muslim, dalam keadaan menyerahkan diri kepada Allah. “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam” (Ali Imran:102).

Mungkin sekarang kita beriman, tapi bisa jadi kita nanti melakukan maksiat dan mati. Naudzubillah, tsumma naudzubillah. Maka memohonlah ridha kepada Allah agar kita mati dalam keadaan khusnul khotimah.

Lalu apa yang harus kita siapkan dalam menghadapi kematian? Persiapkan amal sholeh. Jangan pernah meremehkan amal sekecil apapun. Karena kita tidak tahu amal mana yang menyebabkan diri kita masuk surga.

Tapi sebelum masuk surga, kita akan masuk alam kubur dahulu. Ada beberapa hal yang ditanyakan malaikat di alam kubur. Pertama, iman kita kepada Allah. Apakah kita benar-benar memelihara ketauhidan kita kepada Allah yang Maha Esa? Kedua, iman kepada Rasulullah. Apakah kita benar meneladani beliau sebagai panutan dalam berperilaku, bertutur kata dan sering bersholawat kepadanya? Ketiga, tentang Islam. Apakah kita benar menjadi seorang muslim? Atau hanya sebagai identitas di kartu tanda penduduk. Keempat, tentang Al-Quran. Apakah kita sudah membacanya? Atau mungkin kitab itu hanya menjadi pajangan di rumah, atau malah lupa kita taruh dimana? Jika membaca saja kita jarang, apalagi mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Oh, ini menjadi renungan dan bagi diri penulis yang masih banyak khilafnya.

Sebagai penutup, ada sebuah kisah tentang seorang laki-laki di Masjid Quba. Ketika menjadi Imam sholat, dia selalu membaca surat Al-Ihlas setelah membaca Al-fatihah. Ada seorang jamaah yang melapor kepada Rasul. “Ya Rasulullah, si Fulan selalu membaca Al-Ikhlas setelah surat Al-Fatihah. Padahal  surat-surat di Al-Quran itu tidak hanya Al-Ikhlas.” Lalu Rasul mencoba mengkonfirmasi protes dari jamaah tersebut.  “Wahai Fulan, kenapa engkau melakukan selalu membaca surat Al-Ikhlas ketika menjadi imam? ”Lalu pemuda itu menjawab “karena aku cinta Surat Al-Ikhlas.” Lalu Rasul membalas “Kalau begitu kau akan masuk surga dengan surat Al-Ikhlas yang kau cintai.”

Semoga bermanfaat.

Tulisan ini merupakan kombinasi antara ceramah Jumat di Masjid Pondok Indah yang disampaikan Dr.H.M.Rusli Main, MA pada 8 Januari 2016 dengan renungan penulis.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s