Musyawarah, Syuro, Rapat, Apapun Namanya

Tulisan ini terinspirasi setelah membaca opini dari Heri Priyatmoko di Harian Republika dengan judul Historiografi Ulama Keraton. Tulisan yang membahas tentang peran ulama dalam keraton. Hal menarik dari tulisan tersebut yang menginspirasi saya menulis ini ada di bagian akhir tulisan yang membahas tentang kegiatan bermusyawarah di masjid yang dilakukan oleh para raja saat Dinasti Mataram Islam berkuasa. Hal tersebut mengingatkan saya ketika aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Lembaga Dakwah Kampus (UKM LDK) di salah satu kampus di Jakarta.

Waktu kuliah saya tertarik untuk tergabung dengan LDK. Hal itu muncul dari dua rasa yang sangat berlawanan. Pertama rasa untuk membentengi diri dari ajaran-ajaran sesat serta kegiatan teroris yang mengatasnamakan agama. Kedua, rasa penasaran apakah lembaga ini malah merupakan sumber pembibitan teroris dan ajaran sesat tersebut. Dan saya temukan jawaban itu setelah berkecimpung di dalam lembaga tersebut selama kurang lebih tiga tahun. Ternyata jawabannya adalah yang pertama.

Kembali fokus ke judul, Musyawarah Syuro, Rapat apapun namanya. Terinspirasi dari tulisan Heri Priyatmoko, dia menjelaskan bahwa para raja membuka ruang-ruang diskusi di Masjid Agung. Masjid dipakai bukan hanya untuk tempat shalat, tetapi juga untuk memperbincangkan urusan politik Islam dan kondisi keagamaan masyarakat.

Musyawarah yang kerap dilakukan di Masjid Agung, membuat para anggota diskusi berperan meramaikan suasana masjid. Yang dimaksud dengan meramaikan ialah mengunjungi masjid, beribadah, dan mengembangkan masjid untuk ruang pertemuan, tidak sekedar tempat shalat. Dengan cara dan bentuk meramaikan itu tampak sekali Masjid Agung Surakarta memilki makna sosial dan ragam fungsi di masa lalu, bahkan hingga sekarang (Heri, 2015).

Itu pula yang biasa dilakukan oleh anak-anak LDK. Kalau mau syuro (kata yang lebih sering dipilih oleh anak-anak LDK dibandingkan kata musyawarah atau rapat), pasti lebih sering memilih masjid. Kebetulan masjid kampus mempunyai dua lantai dan biasanya di lantai ataslah anak-anak LDK melakukan syuro. Kebetulan juga UKM ini mempunyai ruang sekretariat (aka sekret) yang sempit, yang tidak mungkin muat jika d syuro di sekret. Kalau 3-10 orang mungkin muat, kalau lebih dari itu, siap-siap untuk desak-desakan.

Syuro yang dilakukan anak-anak LDK pun unik, antara lelaki dan perempuan dibatasi dengan hijab (batas yang menggunakan kain atau lebih sering spanduk bekas acara-acara). Jadi gak bisa tuh antara laki-laki dan perempuan lirik-lirik dengan bebasnya. Yang paling sering diinget ketika ada yang lirik-lirik bebas, “Akhi-ukhti tundukkan pandangan! Godul basor akhi! Godul basor ukhti!” (maap kalau salah nulis bahasa arabnya, pokoknya nyebutnya gitu).

Syuro menggunakan hijab membutuhkan rasa saling pengertian antara peserta laki-laki dan perempuan. Jika salah satu diantara mereka tidak mendengarkan apa yang dibicarakan, maka yang biasa disebut “afwan akhi-ukhti bisa diulang kata-katanya”. Nah kata-kata inilah yang kadang suka bikin jengkel karena pembicaraannya tidak didengarkan. Tapi hal positif yang saya dapat dari aktivitas syuro menggunakan hijab yaitu kita tidak memandang siapa yang berbicara, tetapi apa yang dibicarakan. Walaupun pada akhirnya ketahuan juga siapa yang berbicara.hihihi

Sebenarnya, bukan hanya anak-anak LDK saja yang melakukan pertemuan di masjid. Ada dari UKM Himpunan Qari-Qariah Mahasiswa, Pramuka, dan berbagai komunitas yang memang ingin melakukan pertemuan dan musyawarah di masjid. Bedanya mereka tidak menggunakan hijab.

Namun apapun perbedaanya, melakukan musyawarah di masjid merupakan kegiatan yang oke. Saya cukup setuju dengan pendapat ini:

Dilaksanakannya berbagai kegiatan musyawarah di masjid, otomatis memengaruhi alam pikir peserta musyawarah dan akhirnya hasil musyawarah pun menjadi selaras dengan cara berpikir Islam. Cara berpikir Islam berpangkal dari tauhid (ibadat) melalui diri sendiri (takwa) menuju kesejahteraan masyarakat. Sebaliknya, bila musyawarah dilakukan di luar masjid, keadaan, tempat, atau pengaruh suasana akan menyimpangkan cara berpikir itu kepada hal bertentangan, sekurang-kurangnya menyimpang dari Islam (Sigit, Gazalba, 1975).

                Ada rasa yang berbeda dan cukup terasa ketika bermusyawarah di masjid. Kita akan merasa menjadi lebih dekat dengan Sang Penguasa, Allah SWT. Contoh: Ketika ada lintasan pikiran untuk melakukan hal yang menyimpang, langsung teringat “astaghfirullah ini tidak benar”. Itu yang saya rasakan. Apakah anda merasakan hal yang sama?

Sayangnya, tidak semua masjid memberikan suasana kondusif dalam bermusyawawah. Tidak semua masjid mempunyai ruang yang luas, apalagi ruang rapat. Jika terlalu ramai dan banyak kelompok musyawarah, pelaksanaan musyawarah pun tak optimal.

Saat ini banyak orang lebih memilih ruang khusus rapat untuk kegiatan musyawarah demi kondusifnya musyawarah. Atau bagi para mahasiswa yang tak punya ruang sekret yang luas, bisa memilih lobi fakultas, taman, ruang kelas dan tempat manapun yang bisa dijadikan tempat musyawarah.

Tulisan ini bukan untuk mengajak orang bermusyawarah di masjid. Namun saya hanya mengutarakan pendapat pribadi bahwa masjid merupakan salah satu tempat yang reccomended untuk bermusyawarah. Bermusyawarah di masjid juga sebagai upaya untuk memakmurkan masjid. Tapi apapun pilihan tempatnya, ketika bermusyawarah, jangan lupa dimulai dengan bismillah dan diakhiri dengan alhamdulillah. Wallahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s