Tiga Amal yang Disukai Allah

tiga amal yang disukai Allah

Pada suatu hari seorang sahabat bernama Ibnu Mas’ud r.a, bertanya kepada Nabi Muhammad SAW.

“Ya Rasulullah, amal apa yang paling disukai Allah? Kemudian beliau menjawab sholat pada waktunya, berbakti kepada orang tua, berjihad di jalan Allah” (HR. Bukhari).

Pertama, shalat itu adalah ibadah yang utama dalam ajaran Islam. “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al ‘Ankabuut:45)

Ketika diakhirat nanti, yang pertama kali dithitung adalah sholatnya. “Sesungguhnya pertama kali yang dihisab (ditanya dan diminta pertanggungjawaban) dari segenap amalan seorang hamba di hari kiamat kelak adalah shalatnya. Bila shalatnya baik maka beruntunglah ia dan bilamana shalatnya rusak, sungguh kerugian menimpanya.” (HR. Tirmidzi)

Kedua, birrul wallidain (berbuat baik kepada orang tua). Kita dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk berbuat baik kepada orang tua terutama ibu. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS Lukman: 45).

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yah, memang begitu besar peran ibu terhadap anak-anaknya.  Siapa yang melahirkan kita? Siapa yang menyusui kita? Siapa yang bangun malam hari pertama saat kita menangis? Siapa yang menyuapi makan ketika kecil, mengganti popok, memandikan, menceboki? Pekerjaan ini paling banyak dilakukan oleh ibu. Patutlah kita sebagai seorang anak untuk berbakti kepada orang tua terutama ibu.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, pernah menuliskan dalam kitabnya Al-Kabaair,

Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.

Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.

Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.

Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.

Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.

Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.

Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.

Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.

Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.

Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.

Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.

Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.

Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.

Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.

Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.

Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.

Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.

Ketiga, berjihad di jalan Allah. Banyak cara berjihad di jalan Allah. Perang memang merupakan bagian dari jihad, tapi berjihad itu tidak identik dengan perang. Menuntut ilmu juga bagian dari jihad.

Teringat kisah Zaid bin Tsabit, saat umur belasan dia mengajukan diri untuk berperang, namun ditolak oleh Rasulullah. Rasulullah melihat ada potensi dalam diri Zaid yaitu kecerdasannya. Hingga akhirnya, Zaid pun belajar dengan keras dan mampu menguasai berbagai bahasa dalam tempo singkat. Kemudian Zaid pun juga dipercaya sebagai penulis wahyu oleh Rasulullah. Zaid baru diizinkan berperang saat Perang Khandaq tahun 5 Hijriyah.

Selain itu kita juga dianjurkan berjihad dengan harta dan jiwa kita.  Menyumbang untuk pembangunan masjid juga bisa dikatakan sebagai jihad.Karena kita memberikan harta kita untuk membantu syiar Islam.

Ketika berpusa, ini juga merupakan bagian dari jihad. Karena didalam puasa, kita berjuang melawan hawa nafsu. Kepingin minum nasi padang dan es sop buah di siang hari, tidak kita lakukan. Padahal tenggorokan sudah kering, bibir sudah pecah-pecah dan perut sudah berteriak-teriak, “Tolong kami. Tolong kami. Kami lapar. Kami haus.”

 

sumber tulisan:

  • ceramah tarawih Ustad Mujiono Marzuki
  • postingan di muslimah.or.id
  • potingan di republika.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s